Quantum Leap Pendidikan Koperasi

Jika koperasi adalah juru selamat untuk lepas dari kemiskinan. Koperasi perlu memberikan ilmu kepada para kadernya untuk “menyulap masalah jadi berkah”.

Tugasnya memang berat, mengadministrasikan keadilan, menyajikan produk yang berkualitas, melestarikan lingkungan dan paling penting mampu menstimulus warga yang bahkan paling miskin untuk berdaya sekaligus mandiri dengan bekerjasama bukan hanya menjadi “penerima manfaat”.

Maka dari itu, koperasi dituntut menjadi Inclusive Business builders Kita tidak hanya bicara pertumbuhan, tapi juga perlu memperjuangkan pemerataan, keberlanjutan dan keterlibatan.

Kami percaya, negara yang memiliki banyak koperasi adalah negara yang berpeluang menjadi negara makmur lebih cepat.

Namun perlu jadi catatan, walaupun di Indonesia sudah banyak koperasi, kenapa kita selalu mengalami kendala mengentaskan kemiskinan?

Menurut analisa kami,  karena tidak semua pengurus koperasi memegang prinsip koperasi.

Pertama, pengurus koperasi yang membangun koperasi karena terpaksa, karena mereka tidak ada pilihan kerjaan lain.

Kedua, koperasi yang dibangun karena adanya kepentingan atau dukungan kekuasaan, khususnya memiliki backing Politik.

Ketiga, koperasi yang dibangun hanya untuk berburu rente bukan mengembangkan bisnis bersama.

Kami percaya, di tengah masalah-masalah ini selalu ada harapan. Karena koperasi bisa diajarkan, dan semua orang dari latarbelakang apapun bisa belajar koperasi. Kita harus percaya bahwa setiap orang bisa membangun koperasi.

Dengan keyakinan tersebut, kami merasa di abad 21 ini, kita memerlukan program pendidikan koperasi sebagai quantum leap (lompatan kuantum) untuk melakukan pembibitan  koperasi-koperasi unggul di masa depan.

Ide lompatan kuantum ini sangat sederhana. Kita wajib menentukan target di masa depan, lalu berhitung mundur dengan mempertimbangkan masa lalu untukmerencanakan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk melompati berbagai resiko di masa sekarang. Kunci keberhasilan strategi lompatan kuantum adalah “memaksa diri”.

Memaksa diri ilustrasinya seperti ini. Dalam keadaan normal kita mungkin orang yang malas untuk berlari. Tapi, bagaimana kalau terpaksa? seperti saat kita dikejar-kejar hal yang paling kita takuti, misalnya harimau.

Saat dalam situasi tertekan seperti itu mendadak kita memiliki kekuatan yang memungkinkan kita berlari lebih cepat dari biasanya.

Situasi ini bisa kita ciptakan untuk koperasi, membuat urgensi agar kader-kadernya “memaksakan diri” untuk mencapai potensi yang paling optimal.

Singkatnya, lompatan kuantum dalam konteks koperasi dapat dilakukan melalui pengembangan sistem pendidikan koperasi dengan tiga langkah besar:

Pertama, integrasikan pendidikan koperasi ke dalam kurikulum nasional baik di tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas (SMA sederajat).

Kedua, dorong universitas-universitas besar di Indonesia untuk menjadi inkubator yang mengembangkan model inovasi koperasi.

Ketiga, menggalang gerakan “Bangun Koperasi Nasional” untuk melakukan pendidikan koperasi kepada masyarakat yang tidak mengakses lembaga pendidikan formal.

Dengan demikian, diharapkan koperasi-koperasi di masa mendatang dapat menciptakan manfaat bagi semua umat dan hal tersebut tidak terlepas dari peranan kader-kader koperasi yang berprinsip karena terdidik oleh sistem pendidikan koperasi yang telah kita “paksakan” sekarang. (Wildanshah)