Tragedi Kekayaan Milik Bersama, Bisakah Koperasi Jadi Solusi?

Business people group works at a table – Table

Banyak ilmuwan ekonomi yang menilai bahwa  “barang-barang kepemilikan bersama” membuat ekonomi menjadi boros, tidak bertanggungjawab dan merugikan banyak pihak di saat bersamaan.

Sebab, barang milik bersama membuat orang menunggu “warisan”, tidak membuat berfikir tentang keberlanjutan masa depan dan nasib generasi selanjutnya.

Menurut Garret Hardin, dalam The Tragedy of the Commons (1968), masyarakat cenderung untuk mengeksploitasi sumber daya milik bersama karena masyarakat yang selalu memikirkan diri sendiri. Keserakahan demi kepentingan pribadi terhadap barang kepemilikan bersama pada akhirnya mengancam keberlangsungan kehidupan bersama.

Dengan cerdas, Deliarnov,  pada  karyanya tentang Ekonomi Politik  (2006), memberikan ilustrasi sederhana terkait argumentasi Hardin. 

Deliarnov menjelaskan bahwa nelayan cenderung menangkap ikan berukuran besar dan kecil tanpa memperhitungkan manfaat dan ketersediaannya untuk generasi yang akan datang. Hal ini juga terjadi pada kasus ekspor benih lobster, kita hanya berorientasi berbisnis hari ini, bukan berorientasi pada nasib generasi mendatang.

Masalahnya, jumlah nelayan yang bergantung pada benur semakin banyak, sedangkan benurnya itu sendiri semakin sedikit. Karena benur tidak lagi mencukupi, lobster akan semakin punah, pada akhirnya semua nelayan jatuh semakin miskin. Situasi ini yang disebut sebagai “tragedy of the commons”.

Hal ini sering terjadi biasanya karena ketidakjelasan atau tidak adanya regulasi maupun institusi yang kuat dalam mengatur barang milik bersama.

Ketiadaan regulasi dan institusi yang kuat membuat individu-individu di dalam kolektif tidak bisa menahan diri untuk merebut sebanyak-banyaknya sumber daya milik bersama yang dianggap “gratis”.

Seandainya dalam situasi tersebut, kita juga akan selalu berfikir, “jika saya tidak mengeksplotasi sumber daya milik bersama, orang lain yang akan mengekplotasinya” atau “ Selagi ada kesempatan, lebih baik dihabiskan sekarang”.

Pertanyaan besarnya adalah bagaimana mengendalikan keserakahan individu untuk menahan mereka agar tidak terlalu menguras sumber daya atau kekayaan milik bersama?

Kita dapat belajar dari alternatif Elinor Ostrom dalam mengelola sumber daya milik bersama. Dalam Governing the Commons: The Evolution of Institutions for Collective Action (1990), menurut Ostrom kita dapat menempuh beberapa jalan.

Pertama, kita menciptakan sebuah institusi untuk aksi kolektif yang ditugaskan untuk menata dan mengelola sumber daya milik bersama agar lebih berkelanjutan dan bermanfaat untuk masa depan bersama.

Kedua, kita mengubah status kepemilikan sumber daya bersama dengan memberikan hak pengelolaan kepada pihak-pihak yang dipercaya  dapat memberikan kesejahteraan kepada semua pihak.

Dari tawaran Ostrom, sumber daya milik bersama bisa dijaga melalui “institusi”. “Insititusi” disini bisa dalam bentuk norma, konvensi atau hukum. Upaya membangun “institusi” diharapkan dapat menyeimbangkan perilaku serakah individu dengan sumber daya milik bersama yang terbatas.

Berangkat dari hal tersebut, kita sebagai pegiat koperasi dapat menawarkan ide yang lebih progresif. Pertama, kita dapat mendirikan koperasi untuk mengelola sumber daya milik bersama. Atau, yang kedua, kita memberikan kepercayaan pada koperasi existing yang memiliki reputasi baik dalam  tata kelola sumber daya milik bersama.

Jadi untuk menghindari “tragedy of the commons”, koperasi dibutuhkan  sebagai “institusi” untuk mengelola sumber daya milik bersama secara adil, presisi dan berkelanjutan. (Wildanshah)