Social Marketing Koperasi

Yang dijual koperasi ada dua hal: produk/layanan dan gagasan. Sayangnya, banyak dari para penggiat koperasi di Indonesia masih terjebak pada menjual produk/layanan.

Padahal yang benar-benar membedakan koperasi dengan badan usaha lain adalah gagasan dan keberpihakannya.

Kita sekiranya perlu belajar dari pakar marketing dunia, Philip Kotler. Pada tahun 1970-an, Kotler menyadari bahwa ada kesamaan  strategi antara menjual produk dengan menjual gagasan.

Bila menjual produk bertujuan agar masyarakat mengonsumsinya, bagi Kotler memasarkan gagasan adalah upaya merubah perilaku masyarakat. Dari sini, Kotler mengenalkan kita pada konsep social marketing (pemasaran sosial).

Kotler mendefinisikan social marketing sebagai upaya mempengaruhi perilaku individu dan memberikan manfaat kepada masyarakat melalui pendekatan pemasaran, bukan semata-mata mencari keuntungan ekonomi dari pasar.

Selain mengenalkan istilah social marketing, kotler juga membahas societal marketing. Perbedaan dari kedua istilah tersebut terletak pada menempatkan profit pada prioritas keberapa.

Pada social marketing, profit menjadi priotas kedua, dan kebaikan sosial berada di posisi pertama. Sedangkan, societal marketing, memposisikan sebaliknya, profit masih menjadi yang paling utama. Tapi setidaknya, dari kedua istilah ini, perubahan sosial untuk dunia yang lebih baik dapat dilakukan dengan strategi pemasaran.

Teknik ini sering digunakan oleh aktivis-aktivis kesehatan untuk mempromosikan gaya hidup sehat di tengah masyarakat modern. Baik topik seputar kesehatan mental, seks berisiko, merokok, diabetes, obesitas dan lain-lainya.

Pemasaran komersial, berusaha membujuk masyarakat untuk lebih sering berbelanja. Para pemasar komersil berfokus pada hal-hal positif dari barang dagangannya. Mereka mempromosikan produk, harga, dan semacamnnya agar kita tergiur dan akhirnya membeli.

Pada pemasaran sosial, konsumen dilihat sebagai publik. Dengan demikian, perlu pendekatan yang sedikit berbeda. Kita harus membuat publik bersedia “membeli/mengonsumsi” gagasan kita, dan akhirnya mau merubah perilaku atau kebiasaan mereka. 

Publik mengacu pada sekelompok orang yang ingin kita ubah perilakunya baik individu, keluarga, pemerintah, swasta, organisasi masyarakat sipil, organisasi kepemudaan bisa juga koperasi-koperasi.

Beda elemen, beda juga pendekatannya. Bisa jadi, pesan kunci yang sama disampaikan dengan gaya berbeda agar mudah dicerna oleh masing-masing kelompok.

Masalah koperasi seringkali begitu ruwet, sehingga kita harus terbuka dengan berbagai kerjasama dengan organisasi-organisasi atau agen-agen yang belum pernah terkoneksi dengan koperasi kita.

Kita perlu memetakan organisasi-organisasi, lembaga-lembaga dan agen-agen yang memiliki visi yang serupa dengan kita, dan tidak harus sama. Ini akan mempermudah kerja sama secara parsial dan otonomis  dalam memperbaki kualitas sosial dengan mengubah perilaku masyarakat.

Jadi, pengiat koperasi jangan lagi alergi dengan istilah pemasaran. Jika kita tidak hadir dalam memasarkan ide dan prinsip koperasi kepada publik. Masyarakat kita hanya akan diserbu dengan berbagai pemasaran “gagasan” yang cenderung individualistik dan kapitalistik.

Karena koperasi adalah bisnis yang berbasis pada semangat  sosial. Sebagai anggota koperasi, kita harus memasarkan nilai-nilai swadaya, solidaritas, kesetaraan dan kemandirian kolektif kedalam relung jiwa masyarakat.

Mudahnya, pemasaran sosial untuk koperasi diharapkan dapat membuat masyarakat mencintai koperasi karena adanya kesamaan visi dan misi, bukan hanya karena kebutuhan atas “komoditi”.

Jadi, kita dapat membayangkan, jika  nanti kita membutuhkan sesuatu di dalam perjalanan, kita tidak lagi bilang, “kalau di depan ada alfamart atau indomart, berhenti dulu, saya mau beli sesuatu”  tapi masyarakat kita akan berkata “kalau di depan ada koperasi, berhenti dulu, saya mau beli sesuatu dan beristirahat sejenak” , disinilah keberhasilan pemasaran sosial baru terbukti ampuh. (Wildanshah)