Kita Butuh Sistem Mentoring Koperasi Kreatif

Penggiat koperasi tidak harus menjadi pionir dalam menciptakan hal-hal baru. Kita hanya perlu mengembangkan sesuatu yang sudah ada dengan cara yang tidak biasa saja. Ini yang disebut berpikir kreatif, jangan jadi biasa-biasa saja.

Sebagai contoh  adalah Jeff Bezos, orang terkaya di dunia, pemilik platform Amazon. Ia bukanlah orang pertama yang menciptakan platform belanja online. Namun, Jeff Bezos berhasil menkreasi fitur yang unik dan menarik dari platform-platform lainnya, misalnya fitur “Review” dan “Recommendation”.

Kedua fitur ini, membuat Amazon jelas-jelas menjadi beda, membuat para pelanggannya benar-benar mendapatkan tempat untuk memberikan masukan kepada sesama pelanggan. Sistem sederhana ini yang membuat Amazon bergeliat menjadi bisnis yang luar biasa besar.

Belajar dari Jeff, Intinya, kita perlu melarikan diri dari common practice (laku umum) para pendahulu kita di koperasi. Kreatif bukan berarti menjadi paling otentik, kadang kita hanya perlu menyajikan yang sudah ada dengan cara berbeda. Atau, menciptakan sesuatu yang belum ada menjadi ada.

Sederhananya, mau merujuk kebelakang maupun kedepan, koperasi hari ini harus dioperasikan dengan cara yang tidak biasa-biasanya.

Minimal, produksilah ide-ide, rencana-rencana, dan aksi-aksi yang sedikit beda dari sebelumnya, bukan hanya sedikit lebih baik. Karena “sedikit lebih beda” jauh  menarik perhatian publik, dari pada hanya “sedikit lebih baik”.

Mulai saja kreativitas dengan hal kecil, semampu kita untuk membuat koperasi kita berbeda dari kebanyakakan koperasi.

Kita perlu belajar untuk menerima usaha-usaha  anggota yang berujung kegagalan, daripada anggota-anggota yang tidak pernah melakukan keselahan karena tidak berani berinovasi.

Untuk menjadi koperasi yang kreatif, anggota kita perlu banyak belajar dari tumpukan kesalahan. Karena orang kreatif perlu memiliki pikiran terbuka terhadap setiap kesalahan. Mereka ini yang paling siap untuk berlajar terus-menerus untuk menambah pengalaman, menyulap kesalahan menjadi langkah kemajuan.

Budaya semacam ini yang perlu koperasi kita lestarikan. Jadikan, belajar bersama sebagai keterampilan wajib anggota. Koperasi kita bisa memperoleh pengetahuan dan ide bernas dengan mencoba hal-hal baru atau menyerap dari eksperimen orang-orang lain.

Menurut Yoris Sebastian, seorang pakar kreativitas, menyatakan ada 4 tipe pembelajar yang biasanya dimiliki seseorang:

Pertama, adalah “tipe terminal” yang biasanya tidak proaktif untuk mengetahui suatu hal. Tipe ini lebih senang menunggu instruksi, miskin inisiatif, dan butuh pembimbing yang kuat.

Kedua, adalah “tipe tangga” seorang yang belajar secara tahap bertahap. Tipe ini membutuhkan sesuatu yang jelas, tegas, dan detail. Mereka ini merupakan tipe pembelajar yang tidak bisa melompat ketahap berikutnya jika mereka merasa belum handal mengatasai setiap levelnya.

Ketiga, adalah “tipe atap” biasanya tidak suka berkerja tahap demi tahap. Mereka ini suka dengan konsep-konsep besar, abai dengan hal-hal detail dan teknis. Tipe atap merupakan pembelajar yang melihat gambaran besar dan keseluruhan pada suatu hal.

Keempat, adalah “tipe puzzle” biasanya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap hal-hal baru. Pengetahuannya sangat luas, tipe ini mampu menjahit  berbagai informasi  dan merangkai beragam pengetahuan  menjadi sangat bermanfaat sekaligus memiliki daya ungkit.

Berangkat dari tipe-tipe belajar ini, sistem mentoring perlu dibangun oleh koperasi kita bersama. Karena sistem mentoring adalah dapur bagi lahirnya penggiat koperasi  yang kreatif. Bahkan, semua manajer kelas dunia selalu memiliki lebih dari dua mentor untuk menempa mereka.

Mentor ini bisa siapa saja, dari profesi dan sektor apapun, yang bahkan berlawanan dengan koperasi.

Dengan demikian,  sistem mentoring adalah syarat mutlak bagi koperasi untuk mencetak anggota-anggota yang kreatif! dan kita memang butuh mentor dari luar ekosistem koperasi untuk merenovasi koperasi kita agar bertindak di luar kebiasaan. (Wildanshah)