Semakin Bodoh, Semakin Kreatif!

Sebagian besar dari kita, merasa tidak kreatif. Kita begitu nyaman hidup secara otomatis. Bangun, bekerja, tidur. Hal ini kita lakukan berulang-ulang.

Padahal, rutinitas yang berjalan begitu saja merenggut kreativitas kita sebagai manusia.

Memang benar, manusia cenderung menyesuaikan diri dengan pola dan aturan. Semakin terpola, semakin jadi kebiasaan untuk kita, dan semakin sedikit kita meluangkan waktu memikirkannya kembali.

Ini terjadi karena manusia tidak mampu mengevaluasi semua informasi yang ia terima secara sadar maupun tidak sadar.

Untuk menanganinya, kebanyakan manusia secara alamiah mengurai informasi dan memilahnya menjadi penting atau tidak penting. Mekanisme otak kita secara praktis menerapkannya tanpa perlu usaha yang terlalu serius.

Usaha mengklasifikasi informasi menjadikan hidup kita lebih mudah. Ingat semakin terpola, semakin pula kita tidak pikirkan.

Ini yang membuat kita menggunakan gawai, mengendarai sepeda motor, mandi, dan makan nyaris tanpa kesadaran penuh tapi sangat efesien. Karena kita tidak perlu solusi baru setiap kita menemui masalah yang sama juga berulang.

Tantangan besarnya, perilaku otomatis ini bisa membuat kita terperangkap terhadap stagnansi, terjebak dalam satu cara berfikir yang kaku. Artinya,  kita akan sangat kesulitan untuk melihat peluang yang bahkan hanya memerlukan lirikan mata.

Untuk menjadi inovatif, kita hanya perlu merenung, membuat jeda, mencari cara untuk mengejutkan dunia, dengan menantang pola-pola lama, agar kita menghasilkan sesuatu yang berbeda.

Apakah  kita pernah iseng-iseng bergagasan, bagaimana kita menggunakan gawai hanya dengan pikiran? Bagaimana kita bisa terbang menuju kantor semudah naik motor? Kenapa manusia harus mandi dengan air? Atau apakah ada cara lain untuk makan?

Mungkin Anda akan menganggap ini adalah deretan pertanyaan ini gila!, nyata banyak ilmuwan yang mulai berimajinasi untuk menjawab pertanyaan “bodoh” ini.

Pertanyaan bodoh atas rutinitas, seringkali membuka gerbang permikiran baru, menstimulasi ide-ide kreatif kita agar lebih hidup dan proaktif mencari cara bahkan mekanisme baru menghasilkan keajaiban di kehidupan kita.

Rutinitas, tradisi, pengalaman, kebiasaan, lebih sering memandulkan kemampuan kita untuk berfikir. Pada situasi yang paling ekstrem, membuat kita tidak percaya diri untuk membuat terobosan baru.

Sebagai penggiat koperasi, setidaknya kita harus berani melontarkan pertanyaan-pertanyaan “bodoh” untuk menantang prinsip-prinsip, asumsi-asumsi, paradigma-paradigma, dogma-dogma atau mantra-mantra sukses koperasi masa lalu kalau mau membuat koperasi masa kini yang selaras dengan tuntutan masa depan. (Wildanshah)