Rebranding Koperasi

Jika generasi muda mendengar kata koperasi, dibenak mereka muncul bayangan terkait orang-orang yang membosankan, kantor yang lusuh, usaha yang tak menguntungkan, terlalu kuno dan paling parah kita dinilai: tidak keren.

Persepsi ini muncul karena brand koperasi memang tidak terkelola dan belum jadi prioritas bagi mayoritas pengurus koperasi.

Padahal Brand  adalah jembatan koperasi ke jiwa-jiwa manusia. Brand bukan hanya identitas bagi koperasi untuk membedakan diri dari perusahaan atau dengan koperasi lainnya. Tidak juga sekedar pembeda produk dengan produk lainnya, jasa dengan jasa lainnya.

Brand lebih bersifat emosional, sangat intim dan personal. Yang paling penting  kemampuannya menginspirasi para penggunanya, menjawab harapan-harapan mereka.

Oleh karenanya, membangun brand sama seperti menjanjikan jutaan harapan dan mewujudkan jutaan mimpi masyarakat. Brand memiliki banyak fungsi yang luar biasa, salah satunya menjalin hubungan yang bermakna.

Brand yang sempurna dapat membuat koperasi dan anggota kita bersemangat, bergairah, dan bergerak.

Koperasi dengan brand yang baik mampu mendongkrak produk dan jasa ke tingkat yang semakin tinggi, serta mempertemukan lebih banyak orang-orang yang sevisi dan semisi dengan koperasi kita.

Koperasi yang memiliki brand, tidak hanya mudah dikenali, ia juga akan memiliki kemampuan mengubah sikap, perilaku dan “keyakinan” masyarakat. Brand akan membuat koperasi kita lebih hidup  dan lebih asyik.

Makanya, koperasi sejak dari awal baiknya sudah membangun brand. Brand koperasi harus memperjuangkan sesuatu, memiliki sikap dan melestarikan kebajikan.

Brand koperasi juga tak perlu melulu memuaskan semua pihak, karena memaksa diri “merangkul” semua pihak bisa jadi membuat brand kita jadi biasa-biasa saja.

Ingat, brand bukanlah tentang apa yang hanya kita lakukan. Tetapi apa yang bisa dilakukan masyarakat berkat pesan-pesan kunci yang digelorakan oleh brand kita.

Misalnya, apa yang dilakukan perusahaan industri olahraga terbesar di dunia melalui Nike. Sebagai brand, Nike tidak menjual perlengkapan olahraga, ia menginspirasi kita untuk hidup sehat.

Lalu apa yang kita tawarkan koperasi sebagai brand? Apakah hanya soal layanan “simpan pinjam” atau produk “sembako”?

Jika Ini terjadi, tentunya sangat memalukan para pendekar koperasi hari ini yang tidak pernah absen ceramah soal “prinsip  dan nilai moral” di banyak seminar.

Jangan lupa, koperasi sebenarnya memiliki semangat yang lebih manusiawi dibandingkan perusahaan-perusahaan besar semacam brand Nike. Koperasi adalah kumpulan manusia, bukan tumpukan dana, tetapi kenapa koperasi kita sebagai brand malah kehilangan kemanusiaannya?

Brand adalah tentang manusia dan pelanggan/anggota, bukan produk dan perusahaan/koperasi. Siap-tidak siap. Koperasi harus mulai sadar pentingnya branding.

Kita butuh koperasi yang dapat menciptakan brand yang sangat relevan, trendi, menarik, menginspirasi dan mengadvokasi para anggotanya.

Kita benar-benar butuh koperasi semacam itu untuk jadi prototype, yang nantinya direplikasi oleh koperasi-koperasi yang sudah ada untuk memulai rebranding.

Rebranding koperasi harus mampu menarik anggota secara emosional dan rasional untuk membuat hidup mereka menjadi lebih baik.

Rebranding koperasi  dapat menjadi mantra bagi produk kreatif, inovasi jasa, segmen yang berubah dan mendefinisikan pasar baru agar koperasi kita lebih kompatibel dengan perubahan zaman.

Rebrand koperasi yang baik, tidak hanya bertumpu pada data dan teknologi saja. Kita butuh mempersonifikasi koperasi sebagaimana layaknya manusia yang kaya akan cerita, cita-cita, mimpi, harapan dan doa.

Sudah cukup brand koperasi kita jualan SHU (Sisa Hasil Usaha), kita butuh rebranding untuk menjanjikan masa depan yang lebih indah.

Mari kita mulai dari koperasi kita masing-masing, minimal renovasi logo dulu biar lebih segar dan enak dilihat oleh generasi muda. Tenang, belum terlambat kok. (Wildanshah)