Koperasi Tanpa Asumsi

Asumsi kita, mengendalikan kita. Berasumsi adalah hal yang biasa saja, kadang ia hadir di alam bawah sadar kita semua.

Ketika kita menghadapi sesuatu, kita meresponnya dengan asumsi kita, baik itu masalah yang berat maupun yang ringan. Asumsi selalu mendahului aksi.

Pertanyaannya selanjutnya adalah apa itu asumsi?  Bagi sebagian besar orang, asumsi adalah kepercayaan atau pola kebiasaan yang kita terima sebagai kebenaran.

Kebenaran yang berdasarkan asumsi, tidak pernah dibekali oleh bukti-bukti pendukung. Asumsi telah disuntikan kebenak kita oleh para senior, guru, teman, keluarga, masyarakat dan negara.

Dalam koperasi, asumsi para anggota kita adalah sesuatu yang kita yakini tentang bagaimana produk, proses, distribusi, dan ekosistem koperasi “berjalan wajar”.

Asumsi membantu kita untuk berpikir lebih cepat tanpa harus membuat otak kita bekerja keras. Asumsi menseleksi ratusan informasi tanpa harus mencermati jutaan pilihan. Ini yang membuat kita dapat menentukan langkah aksi dengan modal serpihan ingatan semata.

Memang dalam beberapa kasus, asumsi kita benar dan berguna. Misalnya, kita tahu warung makan yang enak karena banyak pengunjungnya atau kita tahu perusahaan bonafit dari kecanggihan platform digitalnya.

Namun, asumsi bisa jadi musuh dalam selimut jika kita menerima asumsi tanpa meragukannya. Karena ketika kita berasumsi, kita sering menganggap enteng persoalan, kita merasa mengetahui segalanya, ini yang berbahaya. Membuat koperasi kita tidak mempertimbangkan alternatif pilihan dalam menyelesaikan sebuah persoalan.

Pola kebiasaan ini tentunya menyumbat kreativitas. Asumsi menyeret kita kedalam penjara berfikir, kita dipaksa untuk menggunakan ide-ide kuno daripada menciptakan ide-ide baru. Faktanya, inovasi pada koperasi selalu lahir saat asumsi bersama di lawan bersama-sama.

Jika hari ini kita merasa koperasi kita dibatasi oleh asumsi-asumsi, kita perlu menantangnya secara langsung.

Bagaimana cara membabat habis asumsi di dalam koperasi? Pertama, kita harus sadari bahwa koperasi masih sering berasumsi dalam membuat rencana dan strategi. Kedua, kita harus memiliki teknik untuk memilah fakta, data, kebiasaan dan fenomena secara rutin.

Menurut Chris Griffiths, dalam buku “The Creative Thingking Handbook”, ada tiga langkah menantang asumsi kita. Pertama, sebutkan permasalahan anda. Kedua, petakan asumsi anda. Ketiga, tantang setiap asumsinya. 

Tiga langkah ini dapat distimulus dengan pertanyaan, “Apa yang terjadi jika kita dengan sengaja melawan aturan di dalam koperasi kita?”, “Mengapa kita mengelola koperasi kita seperti ini, apakah tidak ada acara lain?”, dan “Bagaimana cara koperasi kita shifting dari jual-beli menuju sewa-menyewa, dari “menguasai aset” menjadi “mengorkestrasi aset” bersama?”

Jangan lagi menahan diri. Jadilah lebih brutal untuk menghajar asumsi yang mengerdilkan koperasi kita hari ini. Karena memposisikan asumsi sebagai dogma adalah perbuatan tidak terpuji sekaligus mengerikan bagi masa depan koperasi kita semua. (Wildanshah)