Koperasi Tangkas Berdaya Saing

Untuk menjadi koperasi yang tangkas, kita harus memiliki keunggulan kompetitif dari pada perusahaan. Koperasi harus bisa membuat jasa atau produk paling murah, paling beda, dan melayani konsumen/anggota dengan sempurna.

Michael Treacy dan Fred Wiersema, dalam karyanya “The Discipline of Market Leaders”, menyarankan kepada kita, ada tiga pilihan untuk memangkan persaingan usaha.

Pertama, kita harus berfokus menciptakan produk yang inovatif. Kedua, kita harus memiliki keunggulan operasional  dengan berfokus pada merampingkan proses produksi, distribusi dan konsumsi.

Dan ketiga, kita perlu membangun kedekatan dengan konsumen dengan menawarkan produk/jasa yang mampu menyelesaikan masalah mereka.

Untuk memperkuat saran dari Treacy dan Wiersema, kita juga perlu menambahkan proses penciptaan nilai untuk tiga pilihan yang tawarkan tersebut.

Koperasi yang hanya menyediakan jasa/produk yang murah dan berbeda saja tidak cukup untuk era ini.

Koperasi perlu berperan lebih besar melalui sudut pandang yang lebih holistik juga inklusif dengan memberikan manfaat bernilai untuk konsumen, anggota, koperasi dan ekosistem usaha rakyat secara keseluruhan.

Koperasi yang memiliki potensi besar adalah koperasi yang mampu menciptakan nilai tambah bagi semua pihak yang berkolaborasi dengannya.

Penciptaan nilai tambah ini di stimulus oleh koperasi kita melalui produk, jasa, dan pengalaman bersama untuk maju sama-sama.

Jika masa lalu koperasi menciptakan peluang dengan mencari formulasi dalam urusan menghemat biaya operasional, penentuan harga, juga pelayanan berbeda.

Koperasi masa kini dituntut  harus dapat menciptakan peluang dengan menciptakan nilai tambah bagi tiga pihak:

Pertama, nilai tambah bagi konsumen/anggota, dalam bentuk memenuhi kebutuhan mereka dengan cara yang lebih baik dari perusahaan, dengan memastikan  barang/jasa koperasi kita dapat mempermudah hidup mereka.

Kedua, nilai tambah bagi koperasi, dengan cara menyusun strategi dan taktik yang dapat menghasilkan nilai tambah untuk koperasi kita, bisa melalui pembangunan merek, social marketing, knowledge management,   menciptakan model bisnis baru dan menggali berbagai teknik revenue stream untuk mengoptimalisasi pendapatan dari hal-hal yang belum terdefinisikan atau terpetakan.

Ketiga, nilai tambah bagi ekosistem usaha, koperasi yang baik adalah koperasi yang tumbuh karena memberikan keuntungan positif bagi lingkungan sekitarnya termasuk mitra-mitra, dengan cara bergotong royong dalam menciptakan nilai tambah bagi semua pihak terkait.

Dengan cara ini, koperasi akan memiliki daya saing dan jadi lawan tanding sepadan bagi perusahaan maupun industri besar di Indonesia.

Koperasi yang tangkas akan lebih berguna untuk masa depan bangsa. Dan yang paling penting, jargon koperasi  sokoguru perekonomian, tidak lagi jadi bualan, ia segera menjadi kenyataan. (Wildanshah)