Koperasi kreatif dimulai dari Inisiatif

Di zaman ini, suka tidak suka, cara berfikir kreatif lebih dibutuhkan daripada cara berfikir kritis.

Dalam laporan “The Future of Jobs” yang dipublikasikan oleh World Economic Forum pada tahun 2016, kreatifitas menjadi bahan baku bagi kesuksesan di tahun 2020.

Kini kita hidup di era berkelimpahan dengan banyaknya produk baru, teknologi mutahir, jenis pekerjaan baru, dan termasuk tantangan-tantangan dunia baru.

Maka tidak heran, jika kini para pengiat koperasi dituntut lebih kreatif agar bisa meraih manfaat dari perubahan-perubahan yang sedang bergerak pontang-panting ini.

Dari pengamatan kami, banyak dari koperasi di Indonesia tahu betul pentingnya kreativitas untuk keberlanjutan dan kesejahteraan anggota.

Tapi yang terjadi sebaliknya, banyak pengurus koperasi yang merasa tim mereka tidak kreatif. Dan parahnya, kita semakin kehilangan kreativitas seiring bertambahnya jumlah anggota koperasi kita.

Makin besar koperasi kita, semakin bertambah pula batasan-batasan yang ditetapkan untuk anggota-anggota kita.

Biasanya, koperasi besar melestarikan kemampanan, dan karena ulahnya mematikan pergerakan proaktif dari anggota.

Koperasi dengan geliat semacam ini hanya berfokus pada mendisplinkan anggota, bukan mendidik anggota.

Koperasi yang mendisplinkan anggotanya menjadikan “kesalahan” sebagai sesuatu yang sangat buruk dan tak boleh terjadi.

Ketakutan untuk “salah” membuat anggota  koperasi yang paling kreatif pun tak miliki nyali untuk mengembangkan ide baru apalagi berbeda pandangan dengan pengurus koperasi.

Kita perlu koperasi yang mendidik anggota, koperasi yang mampu mendistrupsi batasan dan aturan yang menjerat nilai-nilai kebebasan juga kesetaraan.

Koperasi yang mendidik adalah koperasi yang dibutuhkan masa depan. Koperasi masa depan tidak lagi berfikir “di luar kotak” atau “di dalam kotak”.

Kita harus lebih berani lagi untuk melompat dari cara berfikir dikotomis tersebut. Apakah kita bisa memulai mendistrupsi koperasi “tanpa kotak”? dan mulai membanjir koperasi dengan kreativitas tanpa batas.

Paradigma “Out of the box” dan “In of the box” mewakili asumsi, kebiasaan, dan alur berpikir mainstream orang kebanyakan.  Netflix, Amazon, dan Tesla berhasil membuang kotak mereka saat memulai merintis bisnisnya.

Membuang kotak adalah momen sakral nan penuh keajaiban, sebagai mana Steve Jobs, memulai pertanyaan “Bagaimana jika kita mengembangkan telpon genggam tanpa Keypad?”, pertanyaan konyolnya pada masa itu lucunya merevolusi kehidupan kita hari ini.

Kreativitas tidak ada di dalam maupun di luar kotak. Kreativitas sejatinya tidak miliki titik sudut, ia ada di tim kita sendiri, ada di isi kepala para anggota-anggota koperasi kita, bersembunyi di masalah-masalah yang kita hadapi sehari-hari.

Kreativitas bisa bekerja dengan baik ketika di buka di ruang terbuka. Seperti parasut, jika pikiran anggota koperasi kita tertutup, cepat atau lambat koperasi kita akan jatuh hancur lebur.

Untuk membuka pikiran koperasi kita, diperlukan usaha untuk melihat apa saja yang menghambat inisiatif-inisiatif anggota di dalam ekosistem kita.

Karena yang paling berat bagi koperasi hari ini bukanlah menciptakan ide-ide baru, tetapi melepaskan ide-ide lama.

Kolektor ide-ide lama, ada dimana-mana, masih mendapatkan tempat terhormat di jajaran dewan pembina. Mereka bernostalgia di dunia yang tak lagi sama.

Mereka membius penggiat koperasi  menjadi pasif, dengan dalil “pengalaman”, akhirnya menewaskan inisiatif sekaligus kreativitas anggota koperasi yang ingin menciptakan “pengalaman baru”. (Wildanshah)