Koperasi Hibrida

Ada ratusan start up yang tumbuh dan tumbang di Indonesia. Banyak yang berambisi menguasai persaingan dan mengubah permainan.

Para investor mulai berburu potensi, dan menyuntikan  bisnis-bisnis rintisan ini dengan mesin cangih juga tumpukan modal.

Bagi yang lihai, para founder start up ini bisa mendapatkan kesuksesan dengan cepat denga skala besar.

Mahir meramu teknologi dengan model bisnis yang tepat adalah seni yang sangat diperlukan oleh para manajer top dunia, termasuk di tanah air.

Kita harus bisa melarikan diri dari “perang harga” seiring perkembangan media sosial yang menelajangi “harga & produk” di mata konsumen.

Kita perlu berkompetisi atau berkolaborasi dengan cara lain, melalui “perang ide & kecepatan” untuk melayani libido konsumen.

Lalu bagaimana dengan koperasi? Tentu  pergolakan ini bukan hal enteng, kita perlu mengejar ketertinggalan agar tidak jadi barang rongsokan. 

Koperasi sekarang masih lelet, terlalu boros dan sangat ribet. Koperasi ambruk karena badan mereka yang begitu lemah di suhu kompetisi digital. Ini terjadi  karena kita malas melatih otot-otot kelembagaan koperasi dengan tekun.

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk koperasi di masa depan?  Mungkin kita sudah sering hadir diberbagai rapat yang menjelma jadi debat.

Dimana ujung-ujungnya, ada seorang yang sok bijak mengatakan, “Saya rasa koperasi kita belum siap bertranformasi secara digital, internet belum ada di seluruh daerah, model start up tidak cocok diadopsi koperasi, mari kita kembali fokus pada hal-hal baik yang pernah kita buat”.  

Ini tanda bahaya, di koperasi, orang bijak seringkali anti perubahan. Ini yang perlu kita lakukan, membongkar habis “perangkap” dari orang-orang bijak.

Tapi kami ingin membingkai isu teknologi dengan koperasi agar lebih presisi.  Percakapan kita selalu terjebak pada paradigma oposisi biner “koperasi digital” versus “koperasi konvensional”.

Padahal, koperasi yang baik sebenarnya adalah koperasi hibrida, koperasi yang beroperasi secara 50 persen fisik dan 50 persen digital.  Karena pada beberapa sektor bisa jadi terlihat sama, sedangkan yang lain akan terdigitalisasikan.

Menurut, Suwandi, dalam penelitiannya, Koperasi Hibdrida, merupakan salah satu siasat yang kini ditempuh koperasi guna menciptakan performa efektivitas dan efisiensi kelembagaan dan manajemen usaha ialah dengan cara mencampur dan atau mencangkok hal yang baik serta lazim pada praktik badan usaha lain ke dalam koperasi.

Disini pengurus koperasi harus pintar-pintar mengerjakannya. Apa yang tetap dipertahankan dalam bentuk fisik dan apa yang perlu didigitalisasikan dan apa yang perlu ditiru dari model-model bisnis yang paling canggih.

Kita memang membutuhkan waktu untuk memikirkan ulang model koperasi dengan lebih radikal, misalnya ide start up coop. Koperasi yang tidak memanfaatkan potensi digital akan sangat mengalami kerugian di masa depan. Karena digitalisasi adalah sebuah sarana, bukan sebuah tujuan akhir.

Membuat koperasi kita menjadi hibrida bisa jadi sebuah resiko. Berinvestasi pada model koperasi hibrida yang salah, bisa menghancurkan semua rencana kita. Namun, menunggu sektor lain melakukan ide serupa dan berhasil, bisa membuat koperasi kita menyesal seumur hidup.

Sebelum menginkubasi ide dan teknologi cangih di dalam koperasi, makanya ingat paradigma Steve Wozniak, masa depan bisa jadi hebat jika kita membuat keputusan yang pintar dan praktis. (Wildanshah)