Inovasi koperasi adalah 99 Persen Ketekunan

Sebuah koperasi memerlukan ketekunan untuk menyulap imajinasi menjadi inovasi. Inovasi adalah jalan panjang penuh rintangan.

Inovasi tidak berhenti saat ia telah ditemukan, ia butuh diuji dengan ide-ide lainnya, yang mungkin lebih baik dari yang terbaik.

Menguji inovasi dengan inovasi adalah cara yang paling mudah bagi para penggiat koperasi untuk mendapatkan inovasi yang paling berdaya  tahan dan paling penting adalah berguna.

Koperasi kita perlu dibawa ketahap selanjutnya, curigai kesuksesan koperasi kita sekarang, apakah “resep warisan orang tua” ini akan masih relevan untuk sepuluh hingga dua puluh tahun mendatang?

Pertanyaan ini seharusnya memotivasi koperasi kita untuk terus-menerus mengembangkan daya pikir kreatif nan kritis.

Ketekunan adalah kuncinya. Koperasi kita sangat membutuhkan ketekunan untuk beradaptasi dengan perubahan dan mengendalikan ketidakpastiaan.

Butuh ribuan bahkan jutaan kali untuk menemukan formula inovasi  yang dapat merebut perhatian publik.

Tidak usaha kaget, ini merupakan hal yang biasa saja di dalam dunia para inovator yang mampu mengubah jalannya “permainan”. 

Misalnya, Thomas Alva Edison, ia gagal hingga 9.955 kali sebelum berhasil menciptakan bola lampu pijar. Karena 99 persen ketekunan Edison, dunia bisa menjadi terhindar dari malam yang gelap gulita.

Begitupun raja teknologi dunia, seberapa hebatnya Google di mata kita, produknya juga banyak yang gagal seperti Google+,  Google URL Shortener, Google Fusion Tables, Fabric, Allo dan 145 produk buatan Google yang telah lebih dahulu menemui ajalnya.

Setidaknya ini menunjukan sebuah fakta, bahwa ada ketekunan dibalik kesuksesan inovasi. Ketekunan adalah bahan bakar utama untuk melahirkan ide-ide kreatif dan menerapkan gagasan menjadi gerakan.

Ketekunan menemani penggiat koperasi yang rajin berpetualang ke kawah candradimuka.

Selamat datang di pesona 99 persen ketekunan, dan 1 persen inovasi yang sedang diperjuangkan. Karena perjalanan innovator koperasi tentunya akan diiringi rintangan, baik di internal organisasi maupun dari pihak eksternal yang sulit percaya bahwa koperasi dengan “model baru” mungkin saja bisa diciptakan dan tumbuh.

Misalnya, kami memberikan tantangan, mungkinkan Big Data dikelola dengan koperasi? Apakah kita bisa membuat koperasi pekerja  dengan model bisnis koperasi pemasaran? Bisakah kita membuat Netflix ala koperasi film? Atau membuat platform media sosial dengan model koperasi? Selamat menemukan inovasi dengan tekun wahai para inovator koperasi. (Wildanshah)