Blog Single

03 Oct

Deco Pape, Koperasi Pekerja Modal Kreativitas

Salah satu wilayah di Jawa bagian Timur memiliki remaja-remaja dengan kreativitas dan kemauan yang tinggi. Deco Pape adalah worker coop atau koperasi pekerja yang memproduksi karya kreatif seperti hiasan dinding. Koperasi ini dijalankan oleh dua belas remaja asal Tuban yang terbentuk saat masa pandemi pada Juni 2020. Deco Pape ini mampu menjadi wadah positif bagi remaja untuk tetap produktif dan berkreasi selama masa pandemi.

Deco Pape ini terbentuk dengan tidak sengaja. “Berawal dari kumpulan dua belas remaja di daerah Latsari Kabupaten Tuban yang kelebihan energi”, begitu cerita Kemal dari wawancara via daring. Biasanya sehari-hari mereka disibukan oleh Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di Sekolah. Namun ketika pandemi, semua KBM di sekolah ditiadakan, KBM digelar di rumah masing-masing secara daring. Sehingga hal ini banyak memberikan waktu luang bagi dua belas remaja ini. 

Banyaknya waktu luang yang dimiliki para remaja ini yang membuat resah Ketua Rukun Tentangga (RT) setempat. Karena mereka justru banyak melakukan aktivitas yang menimbulkan kegaduhan, seperti menyulut meriam bambu. Meskipun aktivitas ini sebenarnya lumrah dilakukan oleh anak remaja, mengingat itu dunia mereka ditambah juga energi muda yang mereka miliki berlimpah. 

Keresahan dari Ketua RT itu lah yang kemudian disampaikan kepada Kemal Khoirur Rahman untuk membantu memikirkan aktivitas positif yang bisa diberikan pada dua belas remaja itu. Founder Tuban Creative Hub, Kemal Khoirur Rahman, menyambut keresahan pak RT dan meminta waktu untuk memikirkan terlebih dahulu, aktivitas positif seperti apa yang bisa dilakukan oleh dua belas remaja itu tadi.  “Pak RT curhat ke saya gimana ini anak muda-muda untuk tetap aktif berkegiatan positif gimana ya karena biar energi mereka tersalurkan ke aktivitas positif buka malah membuat hal-hal yang mengganggu”, ujar Founder Tuban Creative Hub itu.

Menimbang-menimbang, dua hari setelah menerima curhatan dari Ketua RT akhirnya Kemal mengumpulkan dua belas remaja itu. Berbekal ide lamanya, Kemal memberikan hiasan dinding yang dibuatnya menggunkan teknik printing. Hiasan itu lalu diberikannya pada salah satu anak di antara dua belas itu. Selayaknya, anak remaja mereka mempertanyakan “Wah bagus mas, punya saya mana mas, kok saya gak dikasih juga”, begitu ucap Kemal menirukan rengekan para remaja itu.

Kemal melihat rengekan mereka itu adalah peluang untuk melancarkan ajakan ke para remaja itu untuk melakukan kegiatan positif. “Besok kumpul di rumah ku, kita akan belajar cara membuatnya masing-masing ya”, ujar Kemal. Keesokan harinya dua belas remaja itu berkumpul di rumah Kemal untuk belajar cara membuat hiasan dinding dengan teknik printing. Mereka semua pun mengikuti pelatihan yang diajarkan oleh Founder Tuban Creative Hub itu. 

Proses pelatihan itu diikuti oleh dua belas remaja itu hingga menghasilkan karyanya masing-masing. Setelah hiasan dindingnya jadi, dua belas remaja itu pun membawa hiasan dindingnya ke rumah masing-masing. Beberapa dari mereka ada yang mengunggahnya ke sosial media seperti Instagram, facebook, dsb. Berawal dari unggahan meraka itu lah, diketahui ternyata hiasan dinding yang mereka produksi secara kolektif itu memiliki nilai jual. “Namanya anak muda setelah mereka bawa pulang hiasan dindingnya lalu mereka pajang. Diunggah ke instagram, facebook, dan media sosial lain dan ternyata banyak teman-teman sekolahnya yang tertarik dan ingin memesan”, ujar Founder Creative Hub tersebut.


View this post on Instagram

Progress

A post shared by Work From Home (@deco.pape) on


Setelah para remaja itu tahu bahwa hasil produksi kolektif mereka laku di pasar dan memiliki segmen pasarnya, akhirnya mereka berkumpul dan bertemu kembali menemui Kemal. Kemal pun memberikan pilihan kepada meraka apakah produk itu akan dilanjutkan artinya menerima pesanan yang masuk atau cukup untuk pembelajaran mereka. Para remaja itupun antusias dan menyatakan siap memproduksi dan menerima pesanan itu. Mulai dari sana Kemal mengenalkan mereka pada worker coop atau koperasi pekerja. Pilihan ini dianggap Kemal lebih mudah mengingat jumlah mereka yang lebih dari sepuluh orang rasanya akan sulit apabila harus membagi itu menjadi dua belas usaha berbeda. Mereka bersepakat dan dimulai lah aktivitas dari Deco Pape. 

Hal pertama yang Kemal lakukan ke para remaja itu adalah melakukan edukasi dalam proses bisnis. Kemal menyebutkan ada tiga kunci utama yang harus mereka pelajari secara umum key marketing, key producing, dan mengenai pembagian hasil dalam bentuk koperasi. Kemal juga memberikan mereka tantangan sekaligus prinsip awal dalam produksi awal mereka yaitu zero complain, zero return. Dua belas remaja itu dikenalkan dengan proses bisnis, setelah prinsip awal tadi dijalankan meraka harus juga mengetahui marketing, financing, dan Sumber Daya Manusia (SDM). Kemal juga membagi mereka dalam bentuk pembagian tugas secara sukarela untuk membentuk tim yang solid. Ada yang betugas sebagai pemasar, produksi, administrasi, namun ada satu yang kurang dalam hal desain. Kekurangan itu juga mereka cari bersama hingga akhirnya menemukan satu orang sebagai desainer sehingga worker coop ini menjadi tiga belas orang. 

Bulan pertama mereka melakukan produksi, semuanya sangat professional. “bulan pertama sangat seru, mereka seperti saling jadi reminder, kalo ada yang telat langsung mereka marahi bareng-bareng, mereka benar-benar menjunjung tinggi keterbukaan”, ujar Kemal. Berkat profesionalitas para anggotanya, Deco Pape berhasil meraih omzet sebesar dua juta rupiah di bulan pertamanya. Hal ini sekaligus penanda bahwa meraka telah sukses memegang prinsip bisnis awal yang ditekankan Kemal yaitu zero complain, zero return.

Bulan ketiga sejak awal beroperasi Deco Pape sudah menerima lebih dari 100pcs pesanan. Sekarang Deco Pape sudah beranjak ke proses bisnis marketing dan financing mereka mulai memikirkan pengelolaan cash flow dan juga pendanaan. Beberapa remaja itu mulai belajar membuat proposal untuk promosi dan kemitraan. “kita sudah berhasil melalui fase operasional produksi artinya sudah final, sekarang kita akan bicara marketing. Kita masuk ke endorse selebgram, kita maksimalkan disitu dan belajar masuk ke pendanaan”, ujar Kemal.

Deco Pape yang berawal dari Modal 0 (nol) hanya berbasis kreativitas SDM, sekarang sudah mampu untuk mencetak pengahasilan mereka sendiri di usia mereka yang masih remaja. Kunci sukses yang dilakukan oleh Deco Pape ada pada kemauan belajar dan kejujuran atau keterbukaan di dalam anggota Deco Pape. “Saya melihat kunci sukses nya Deco Pape ada di komunikasi, muncul kejujuran, mereka saling to the point. Ini sangat penting karena mereka benar-benar tidak memberi celah pada asumsi selama proses produksi”, ujar Kemal yang menjadi inisiator dari Deco Pape. []


Anda bisa meninggalkan No. Ponsel bila memilih "Ingin memahami lebih lanjut"

Related Posts

Leave A Comment