Blog Single

30 Sep

Hetero Space, Cara Gaul Dinkop Prov. Jawa Tengah

Iklim kreatif dan inovasi yang mewabah di abad ke-21 ini telah merasuki Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (Dinkop-UKM) Provinsi Jawa Tengah (Jateng). Hetero Space adalah manifestasi dari inovasi yang dilakukan Dinkop-UKM Provinsi Jateng dan telah diresmikan pada 31 Januari 2020. Inovasi ini membalikkan asumsi umum bila institusi pemerintahan cenderung konservatif dan tertutup. Nyatanya kolaborasi kreatif dari Dinas bersama dengan komunitas bisa diwujudkan dalam bentuk nyata.

Hetero Space adalah sebuah ruang kerja bersama (co-working space) yang terletak di Kota Semarang. Co-working ini adalah persembahan dari Pemerintahan Provinsi Jateng yang diinisiasi oleh Dinkop-UKM Provinsi Jateng sebagai sarana pemerintah untuk memberi akses dan ruang belajar berkembang tanpa batas bagi UMKM maupun startup di Kota Semarang. Hetero Space ini bukan hasil pekerjaan satu pihak, melainkan ini adalah buah kolaborasi dari pemerintah, komunitas dan swasta. Menyusul selanjutnya kampus.

Ide awal berdirinya co-working space ini berangkat dari keinginan Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, bahwa beliau ingin adanya sebuah ruang kerja bersama (co-working space. “Jadi dulu itu kita ngobrol sama Pak Gubernur menjelang hari koperasi ke-72. Intinya Pak Gurbernur ingin bikin co-working koperasi, startup dan UKM agar bisa belajar digital-digitalan”, ujar Ema Rachmawati selaku Kepala Dinas dari Dinkop-UKM Provinsi Jateng

Keinginan kuat dari Ganjar Pranowo langsung diterjemahkan oleh Dinkop-UKM Provinsi Jateng. Mulai dari proses perencanaan hingga realisasi tidak membutuhkan waktu lama, hanya enam bulan. Dinkop menyadari betul bahwa niat baik ini tidak dapat dilakukan sendiri. Dinkop lalu membuka diri dengan berkolaborasi bersama berbagai lembaga seperti Telkom dan Bank Indonesia (BI). “Kita teman-teman dinas kan gak paham yang begini-begini, paling Saya sampai nyari tahu di Google. Lalu kami belajar ke Surabaya, Bali. Kita kolaborasi dengan berbagai pihak bersama dari teman-teman IMPALA Network juga”, ujarnya.

Komitmen dalam inovasi yang dilakukan Dinkop terjawab dalam prosesnya. Dinkop benar-benar meilibatkan teman-teman komunitas mulai dari perencanaan hingga implementasi. Hal ini sekaligus juga jawaban dari berbagai pihak bahwa biasanya dinas cenderung hanya mengajak komunitas di bagian awal atau perencanaan saja. “Dinas harus terbuka menerima program baru, menerima keterlibatan orang lain tidak hanya dalam perencanaan saja, karena kadang teman-teman komunitas hanya diajak rapat awal saja selanjutnya dikerjakan sendiri, karena tidak paham, hasilnya kurang bagus”, sambungnya dalam wawancara via online.

Sejak kehadirannya di Kota Semarang, Hetero Space telah berkolaborasi dengan 770 komunitas. Tidak berhenti di situ, Hetero Space juga telah mengadakan 192 acara sejak pertama kali beroperasi. Selama masa pandemi pun, co-working space ini justru menunjukan bentuk adaptifnya, banyak agenda webinar yang bisa dilakukan di co-working ini.  Hal ini menunjukan bahwa Hetero Space mampu menjadi ruang untuk tumbuhnya talenta-talenta muda yang saling berkolaborasi. Saat ini Hetero Space sedang berkolaborasi dengan komunitas untuk menggarap gebrakan baru dalam acara bernama ‘Startup Muda’.



Diskop-UKM Provinsi Jateng pun tidak mau ketinggalan dengan semangat yang masih membara ini, mereka mengerjakan channel mereka sendiri bernama “Rumah Inspirasi Koperasi dan UKM”. Sebenarnya ini hanya wajah baru dari Youtube Channel Dinkop yang dikemas ulang dengan konten-konten tentang perkoperasian dan UKM. “Saya rekrut anak muda untuk develop seperti Youtube “Rumah Inspirasi UKM”, termasuk konten di Instagram, IG live dan lainnya. Kita harus hidupkan konten-konten untuk mengikuti zamannya, semuanya harus dimuali dari dalam”, ujar perempuan yang suka blak-blakan itu.

Instansi pemerintah seperti Dinas hari ini harus mampu mengubah  wajahnya agar mampu menarik anak-anak muda dan setidaknya menghilangkan wajah pemerintahan yang kaku. Pertumbuhan digital dan segala bentuk inovasi yang dibawanya harus direspon baik juga oleh instansi pemerintahan. Bu Ema, demikian akrab disapa, memberi bocoran soal kunci sukses membangun kelembagaan dinas yang adaptif adalah dengan mengubah mindset terlebih dulu. “Saya pikir memang dinas koperasi itu harus diusahakan mengikuti tren 4.0 atau 5.0, pikirannya harus terbuka ke sana. Jadi dinas tidak hanya mengarahkan, mendorong perubahan di koperasi, UKM atau masyarakat, tapi dinasnya sendiri pun harus berubah”.

Kunci sukses kedua katanya adalah kolaborasi. “Dinas ini kadang kan sumberdayanya terbatas. Seperti ketika bikin Hetero Space itu, itu anggaran sudah cekak. Jadi ya harus ngajak yang lain-lain untuk gotong royong. Alhamdulillah bisa berdiri juga. Sekarang mau kita replikasi ke Solo dan Purwokerto”, terangnya di selingi tawa ringan. []


Anda bisa meninggalkan No. Ponsel bila memilih "Ingin memahami lebih lanjut"

Related Posts

Leave A Comment