Blog Single

30 Sep

Halo Anggota, Kunci Pengembangan Layanan di CU Lestari

Credit Union (CU) Lestari senantiasa merawat spirit koperasi dalam gerakannya, meski sudah lebih dari lima belas tahun berdiri. CU Lestari adalah Koperasi Simpan Pinjam (KSP) yang didirikan pada 29 November 1999, di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Lima belas tahun setelah pendiriannya, CU Lestari merevitalisasi kembali nilai-nilai koperasi melalui Gerakan ‘Halo Anggota’. 

Gerakan ‘Halo Anggota’ secara sederhananya adalah bentuk komunikasi yang dilakukan oleh manajemen koperasi kepada anggotanya untuk menjaring informasi baik masukan positif ataupun keluhan dari anggota. Pendekatan yang dilakukan oleh pengurus CU Lestari di dalam menjalankan Gerakan ini adalah dengan mendatangi langsung atau door to door untuk kembali menghidupkan human relation di dalam aktivitas mereka. Hal ini penting karena keberangkatan awal koperasi ini berdiri adalah sebagai lembaga pemberdayaan masyarakat. 

Gerakan ini berangkat dari keresahan manajemen dan pengurus, yang mana aktivitasnya cenderung urusan simpan dan pinjam belaka. Sedangkan dari hasil refleksi, mereka menemukan tidak terjadi perubahan signifikan dalam hal kesejahteraan anggota. Keresahan yang dirasakan oleh Aji inilah yang kemudian dibawa ke pengurus hingga melahirkan Gerakan yang disebut sebagai Gerakan ‘Halo Anggota’. 

Gerakan ini dilakukan di hari Sabtu karena hari Sabtu adalah hari yang lebih senggang untuk aktivitas di CU Lestari. Gerakan ini disambut baik oleh semua pengurus mulai dari staf hingga manajemen dengan keterlibatannya untuk turun lapang menemui anggotanya. Sebaliknya, para anggota pun menyambut baik inisiatif Gerakan ini. Kenyataannya dari Gerakan ini berhasil membentuk berbagai komunitas di lingkungan koperasi. “seluruh pengurus dan manajemen turun lapang setiap hari sabtu, dari aktivitas itu banyak masukan dari anggota mulai ditampung, kita berdiskusi dengan anggota yang sebelumnya jarang sekali dilakukan”, ujar Aji Prastyanto. Halo Anggota ini berbeda dengan aktivitas kolekting simpanan dan angsuran anggota. Halo Anggota fokus hanya menyapa anggota saja.

Dari Halo Anggota, kemudian CU Lestari menginisiasi Kelompok Anggota. Ada dua jenis kelompok, yakni Kelompok Nilai yang di aktivitas di dalamnya terkait edukasi nilai credit union. Mengingat hasil kajian yang pernah dilakukan oleh internal CU Lestari bahwa peningkatan jumlah pinjaman tidak selaras dengan peningkatan jumlah tabungan.  “membangun kesadaran anggota untuk menabung, daur hidup itu yang kita lakukan. Bagaimana memaknai adanya tujuan dari aktivitas simpan dan pinjam karena rata-rata orang masih hanya fokus pada yang penting dapet pinjaman saja tapi belum mengetahui pembagiannya”, ujar Aji Prastyanto.

Kedua adalah Kelompok Usaha, yang mengelompokkan anggota berdasar jenis usahanya. Aktivitas di dalamnya lebih banyak pengembangan kecakapan usaha/ teknikal mereka sesuai jenis usahanya. Dari kelompok ini, CU melakukan pendampingan intensif usaha anggota. Misalnya adalah para produksi atau anggota-anggota petani. Bahkan CU sampai melakukan akses terhadap pupuk dan semacamnya sebagai layanan non keuangan.



Dalam proses perjumpaan yang intensif itu, CU Lestari menemukan kebutuhan lain anggota, yakni bahan pangan. Dari sana mereka mengembangkan layanan sosial, joint buying. Layanan joint buying ini juga sekaligus menjawab tantangan CU yang tidak terbatas pada urusan simpan dan pinjam saja. Layanan joint buying itu berhasil mengelola kebutuhan rumah tangga seperti beras. Kebutuhan yang sudah CU Lestari akomodasi hingga hari ini mencapai 10 ton beras. 10 ton beras itu diperoleh dari hasil joint buying dengan 13 komunitas yang lahir dari Gerakan ‘Halo Anggota’ yang mana per komunitasnya berjumlah 40 orang. Suatu saat apabila layanan ini sudah dapat memberikan nilai bagi anggota, angka 10 ton itu dapat bertambah, mengingat jumlah anggota dari CU Lestari saat ini adalah 7100 anggota. Artinya, 10 ton itu hanya hasil joint buying bersama 7,3% dari anggota CU Lestari.

Koperasi hari ini harus mampu menangkap berbagai peluang namun tetap menghidupi nilai-nilai dari koperasinya. Pikiran terbuka harus didorong mulai dari internal koperasi apabila koperasi ingin tetap eksis di era yang disruptif seperti ini. Inovasi tidak hanya sebatas pembaruan teknologi saja tapi juga bisa berupa pembaruan pada layanan, “Kalau saya begini koperasi secara umum harus memliki keterbukaan pada segala bentuk inovasi jangan terpaku pada teknologi saja. Inovasi yang dilakukan bisa berbentuk juga layanan yang penting mau terbuka pada hal-hal baru”, ujar Manajer CU Lestari tersebut. []


Anda bisa meninggalkan No. Ponsel bila memilih "Ingin memahami lebih lanjut"

Related Posts

Comments

There are 4 comments on this post.

  1. AZHAR

    September 30, 2020

    Reply

    UMKM ini sangat membatu

  2. AZHAR

    September 30, 2020

    Reply

    Sangat membantu

  3. acep ateng nugraha

    September 30, 2020

    Reply

    sangat membantu tambah lagi wawasanya

  4. testingXSSX

    September 30, 2020

    Reply

    “>”@x.y

Leave A Comment