Blog Single

29 Sep

Joint Buying, Layanan Non Keuangan di CU Lestari

Kabupaten Wonosobo di Jawa Tengah menyimpan koperasi yang agile dalam berinovasi, Koperasi Credit Union (CU) Lestari namanya. CU Lestari adalah Koperasi Simpan Pinjam (KSP) yang didirikan pada 29 November 1999. Lima belas tahun setelah pendiriannya, CU Lestari melebarkan jangkarnya tidak hanya memberikan pelayanan simpan pinjam saja tapi juga mulai mengerjakan hal baru yaitu konsep joint buying. Konsep ini dijalankan oleh CU Lestari sebagai jawaban adaptif untuk tetap menghidupi nilai-nilai koperasi di era disruptif.

Keberangkatan awal CU Lestari berdiri adalah untuk memberikan akses keuangan pada masyarakat yang saat itu target awalnya adalah para petani. Sejak awal, koperasi ini berfokus pada pemberdayaan masyarakat. Sehingga, setiap perjalanan dari tahun ke tahun, koperasi ini akan selalu merefleksi marwah kehadiran awalnya kembali.

Pada pengelolaan, Koperasi CU Lestari yang dipimpin oleh Agustinus Aji Prastyanto, Manajer CU Lestari, selalu memegang erat misinya yaitu “menciptakan kemandirian ekonomi masyarakat dengan memberikan layanan keuangan yang terpercaya dalam semangat kooperatif dan adaptif”. Sehingga, semangat kooperatif dan adaptif itu yang mendorong Aji dan pengurus lainnya untuk melakukan gebrakan baru dalam layanan konsep joint buying.

Kelahiran layanan joint buying ini adalah hasil dari keresahan Pengurus dan Manajemen terhadap aktivitas koperasi yang semakin terkesan hanya pada hubungan transaksional semata. Tepat di lima belas tahun setelah berdirinya CU Lestari, mereka merefleksikan apakah layanan yang ada sudah memberikan dampak positif atau tidak. “Kita mencoba kajian secara data apakah layanan keuangan yang selama ini kita berikan telah berdampak positif atau tidak”, ujar Manajer dari CU Lestari tersebut.

Pada akhirnya Manajemen dan Pengurus lainnya mulai berinisiatif melakukan kajian untuk melihat dampak manfaat ekonomi dan sosial dari kehadiran CU Lestari. Melalui hasil kajian yang dilakukan di internal, ternyata ditemukan ada hal yang menarik yaitu peningkatan jumlah pinjaman tidak selaras dengan peningkatan jumlah tabungan. Berangkat dari hal tersebut manajemen dan pengurus mencoba membentuk Gerakan ‘Halo Anggota’. Gerakan ini lahir untuk mencari jawaban lebih lanjut dari hasil kajian awal. Secara sederhana, Gerakan ini adalah silahturahmi dari pengurus ke anggota untuk menyapa para anggota dengan pendekatan secara langsung dan lebih intim.

Gerakan inilah yang pada kesempatannya menjadi embrio dari layanan joint buying. Layanan Joint Buying adalah terkait dengan pembelian suatu barang secara kolektif atau membeli bersama. Joint buying yang dilakukan oleh CU Lestari adalah terkait dengan pemenuhan kebutuhan rumah tangga dari para anggotanya. Kebutuhan rumah tangga yang sudah coba di-handle oleh CU Lestari adalah seperti kebutuhan beras, gula dan minyak. 

Kebutuhan beras yang sudah CU Lestari akomodasi hingga hari ini mencapai 10 ton beras. 10 ton beras itu diperoleh dari hasil joint buying dengan 13 komunitas yang lahir dari Gerakan ‘Halo Anggota’ yang mana per komunitasnya berjumlah 40 orang. Suatu saat apabila layanan ini sudah dapat memberikan nilai bagi anggota, angka 10 ton itu dapat bertambah, mengingat jumlah anggota dari CU Lestari saat ini adalah 7100 anggota. Jadi 10 ton itu hanya hasil joint buying bersama 7,3% dari anggota CU Lestari.



Dalam layanan ini CU Lestari berperan sebagai fasilitator atau penghubung. CU menghubungkan antara anggota/ kelompok yang memiliki produk (beras dan lainnya) dengan kelompok anggota yang membutuhkan. “Contohnya kami kerjasama dengan Kelompok Anggota di Klaten dan Karanganyar yang punya beras. Kami salurkan ke Kelompok Anggota di Wonosobo dan Temanggung”, ujar Aji. Lama kelamaan, kebutuhan itu meningkat dan tak bisa disediakan oleh anggota Lestari.

Layanan baru joint buying ini juga sebagai bentuk member engagement dari CU Lestari kepada para anggotanya. Selain itu, layanan ini juga mampu membuat CU Lestari untuk membangun kemitraan antar lembaga CU di daerah – daerah lain. “Kita kerja sama dengan CU di daerah lain juga pada akhirnya ada CU Pelita Usaha di Kabupaten Temanggung dan Bangun Mulyo di Kabupaten Karanganyar”, ujar Aji Prastyanto. 

Pendekatan yang digunakan CU Lestari dalam menentukan harga jual dari layanan joint buying ini pun tidak dilakukan semena-mena. CU Lestari melakukan pendataan terlebih dahulu pada kemampuan setiap harga atau biaya yang dikeluarkan oleh anggota untuk membeli produk seperti beras misalnya. Setelah proses pendataan itu dilakukan, maka tim dari CU Lestari akan bertugas mencari barang yang sesuai dengan kemampuan anggotanya. 

“Saat ini joint buying ini adalah layanan. CU tidak menambah margin keuntungan sama sekali, sebab kami adalah koperasi simpan-pinjam. Untuk mendukung layanan ini kami posting 2 orang karyawan. Operasional seperti transportasi barang, dibebankan ke harga jual”. Meski demikian Manajemen dan Pengurus melihat ketika volume makin besar dan varian barangnya makin banyak, tidak menutup kemungkinan aktivitas layanan itu akan dikembangkan secara serius menjadi satu koperasi baru, koperasi konsumsi.

Rencana yang akan dilakukan oleh CU Lestari selanjutnya adalah membangun layanan joint buying pada kebutuhan pertanian seperti pupuk. Rencana ini dilakukan setelah melihat respon dari layanan joint buying sebelumnyapada kebutuhan rumah tangga. Pengurus dan lainnya akan terus mengawal koperasi CU Lestari untuk tetap agile dengan zaman. Menurut Aji, koperasi hari ini harus mampu untuk terbuka pada kemungkinan-kemungkinan baru agar melahirkan layanan yang inovatif. “gerakan koperasi juga harus mengambil peran inovasi, kita harus melakukan perubahan dengan inovasi karena itu akan membuat rencana hidup dari anggota lebih baik”, ujar Manajer CU Lestari tersebut. []


Anda bisa meninggalkan No. Ponsel bila memilih "Ingin memahami lebih lanjut"

Related Posts

Leave A Comment